KONSERVASI AIR YANG TERUS MENGALIR

Masalah banjir dan kurangnya air bersih sepertinya bukan kali ini saja dihadapi bangsa Indonesia. Dari jaman kerajaan Majapahit pun, para penguasanya selalu memutar akal untuk mencegah banjir dan memanfaatkan air untuk kesejahteraan rakyat. Menariknya, mereka sangat meyakini bahwa air bukan penyebab musibah, melainkan anugerah yang harus selalu disyukuri.

Berbagai prasasti dan berbagai peninggalan sitem irigasi kuno telah menjadi bukti bahwa sejak dahulu Indonesia sangat peduli dengan konservasi air. Perhatikan saja Prasasti Harinjing, bertarikh 921. Yang menyebut para kepala desa menggali sebuah saluran dan membangun sebuah tanggul. Prasasti Bakalan yang dibuat rakryan (pemimpin) dari Mangibil pada 934 yang menyebut persawahan yang dirancang secara sistematis dengan pembangunan tiga bendungan di kali-kali kecil yang mengalir dari Gunung Welirang.

Belum lagi pembangunan waduk ‘candi tikus’ yang termaktub dalam Prasasti Kandangan, bertarikh 1350. Sebuah candi di tengah waduk yang berfungsinya sebagai bendungan . Dan masih banyak lagi peninggalan nenek moyang kita yang berbicara tentang pelestarian sumber air .

Air mengajarkan kita tentang kegigihan dan rendah hati, Tak peduli berapa banyak hambatan yang harus dilewati, cadasnya batu gunung, sungai yang berkelok, atau selokan yang kotor. Air tetap akan mengalir dan tiba di muaranya. Itu mengajari kita agar tidak mudah menyerah, dan selalu gigih dalam menggapai sesuatu yang kita inginkan.

Air juga mengajarkan Fleksibilitas, tidak kaku dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Air jika dimasukkan ke dalam wadah beraneka bentuk. Ia selalu mengikuti bentuk yang didiaminya. Begitupun kita dalam kehidupan ini, harus bisa bersifat lembut tetapi juga bisa menjadi kuat bila dibutuhkan.

Duh…jadi semakin penasaran dengan konservasi air yang ada di Indonesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top